Bagaimana rasanya merindukan seseorang yang setiap hari masih kita temui? Ia ada di rumah, duduk di meja makan, lalu beristirahat setelah bekerja. Namun, senyum dan percakapan yang dahulu membuat kita merasa dekat dengannya perlahan menghilang. Kehadirannya tetap nyata, tetapi kehangatannya terasa semakin sulit dijangkau.
Perasaan itulah yang menyelimuti Dina dalam cerpen *Kangen Bapak* karya Ema Afriyani, yang dimuat di Banjarmasin Post pada 29 Maret 2020. Sejak ibunya meninggal, kehidupan keluarga mereka berubah. Dina dan adiknya, Akbar, kehilangan sosok ibu sekaligus merasakan perubahan sikap bapak yang kini lebih banyak diam dan mudah marah.
Bapak tetap bekerja keras. Setiap hari, ia menghabiskan waktu di bawah terik matahari untuk membangun rumah orang lain dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, sepulang bekerja, ia lebih sering beristirahat di dipan bambu dengan selimut kumalnya. Percakapan dengan kedua anaknya menjadi jarang, sementara kebutuhan hidup terus mendesak.
Dina melihat kelelahan itu dan ingin membantu. Sebagai anak yang lebih besar, ia mulai memikirkan pengorbanan yang mungkin bisa dilakukannya. Akan tetapi, niat baik tidak selalu mudah disampaikan, terlebih ketika orang-orang dalam satu keluarga sama-sama membawa kesedihan yang belum mampu mereka bicarakan.
Di tengah keadaan tersebut, kebutuhan sederhana Akbar akan pensil warna untuk pelajaran menggambar membuka ketegangan di meja makan. Bagi seorang anak, itu adalah perlengkapan sekolah yang dibutuhkan esok hari. Bagi bapaknya, pengeluaran tersebut harus berhadapan dengan uang makan yang terbatas. Dina berada di antara keduanya, memahami kesulitan keluarga sekaligus merasakan betapa adiknya membutuhkan perhatian.
Melalui keseharian yang dekat dengan kehidupan banyak keluarga, cerita ini mengajak kita memperhatikan perasaan di balik sikap diam, jawaban pendek, dan kemarahan. Mampukah Dina menyampaikan kegelisahannya tanpa membuat jarak dengan bapaknya semakin lebar?
Temani Dina dan Akbar menghadapi hari-hari mereka dengan membaca kisah lengkapnya. Ebook cerpen ini dibagikan secara gratis melalui tautan di bawah. Selamat membaca dan menemukan sendiri perasaan yang tertinggal setelah halaman terakhir.
[TAUTAN EBOOK]
