Sebuah novel dilempar ke lantai, diinjak hingga kusut, lalu diludahi. Aries begitu marah sampai buku yang baru dibelikan adiknya menjadi sasaran amukannya.
“Dasar plagiat! Tidak punya malu!”
Caca mencoba menenangkan kakaknya dengan memberikan novel lain, kali ini karya seorang penulis terkenal. Namun, kemarahan yang sama kembali meledak. Di mata Aries, penulis pemula maupun penulis ternama sama-sama pantas mendapat tuduhan itu.
Apa yang sebenarnya ia temukan dalam buku-buku tersebut? Mengapa kata plagiat begitu mudah menyulut kemarahannya?
Dalam cerpen Reinkarnasi Plagiator karya Endang S. Sulistiya, kita berkenalan dengan seseorang yang pernah mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah cita-cita. Aries dahulu seorang guru. Ia meninggalkan pekerjaan tetap demi menjadi penulis, membawa keyakinan bahwa karya yang lahir dari hati akan menemukan pembacanya.
Lalu datang penolakan. Berulang kali.
Bayangkan mengirimkan tulisan yang kamu perjuangkan sepenuh tenaga, kemudian terus menerima pintu tertutup. Sampai sejauh mana kamu sanggup bertahan? Ketika pengakuan terasa semakin jauh, pilihan apa yang mungkin mulai terlihat masuk akal?
Sementara Aries tenggelam dalam kemarahannya, Caca kembali duduk di depan komputer tua. Jemarinya bergerak di atas keyboard. Di sekitarnya berserakan lembaran kertas yang telah menguning.
Apa yang sedang ia kerjakan? Dan apa hubungan kertas-kertas itu dengan mimpi kakaknya yang berantakan?
Cerita ini membawa kita mendekati hubungan kakak-adik yang dibayangi ambisi, kegagalan, dan sebuah masa lalu yang menyakitkan. Melalui keduanya, muncul pertanyaan yang terasa dekat dengan dunia kepenulisan: bagaimana kita menilai sebuah karya, seberapa besar nama penulis memengaruhi penilaian itu, dan apa yang terjadi setelah seseorang telanjur diberi cap buruk?
Sisakan sedikit waktu untuk mengikuti kisah Aries dan Caca. Ada alasan mengapa cerpen ini diberi judul Reinkarnasi Plagiator, dan alasan itu sebaiknya kamu temukan sendiri.
📖 Baca ebook Reinkarnasi Plagiator secara gratis di sini
